Seorang perempuan tua, dengan jalan yang sudah terbungkuk-bungkuk, yang nyaris berusia 81 tahun, itulah ibuku....
Ibuku adalah anak bungsu dari 4 bersaudara, dan pada usia 2 tahun telah menjadi anak yatim....ya beliau selalu bangga dengan predikat anak yatimnya...."anak yatim tulen, karena ditinggal bapak di usia yang dini, 2 th.." katanya...
Ya, memang di setiap kesempatan walaupun tidak diucapkan dengan mimik humor, tapi selalu ada usaha mempositivkan dan penghiburan di setiap waktu darinya untuk dirinya sendiri maupun anak2/lingkungannya di setiap keadaan/kondisi yang kurang menguntungkan.
Dulu ketika muda, ibuku bekerja di Kanwil Diknas, dan sampai pensiun beliau menjabat sebagai bendahara suatu proyek di Jakarta. Di situlah aku melihat "siapa" ibuku yang sebenarnya, seorang pekerja yang jujur dan bersih, yang selalu menjaga agar "semua baik" dan selalu "mencegah kejahatan/keburukan" walaupun dengan konsekwensi menerima dampak negatif dari sikap ibu itu.
Ibu juga seorang yang selalu "rela berkorban" apa saja, tentu saja tidak termasuk mengorbankan harga dirinya. Dulu, rumah kami selalu kedatangan kenalan, tetangga, sanak saudara....dan mereka datang untuk minta tolong, aku belum pernah melihat sekalipun ibuku bermuka masam dan menolak kedatangan mereka, dan hebatnya lagi...hampir semua yang datang akan ibu tolong sesuai kemampuan ibu, baik menolong secara moril ataupun materil ( kebanyakkan ibu menolong secara moril DAN materil...)
Sebagai anak perempuan tunggal dan sulung pula, biasanya banyak mendapatkan kemanjaan fasilitas, namun nyatanya ada masa bertahun-tahun rumah kami penuh dengan orang, kakak ibu, adik bapak, para keponakan ibu dan para keponakan bapak, berkumpul semua di rumah...hingga aku harus tidur sekamar bertiga ( padahal kami punya 4 kamar tidur !), bisa dibayangkan bagaimana kesalnya hatiku saat itu.....
Selalu berfikir positif dan pemaaf adalah sifat ibu yang agak sulit kuikuti, walaupun alhamdulillah semakin aku tua, dengan usahaku...aku bisa semakin positf dan pemaaf. Memang berfikir positif dan pemaaf seringkali disalahgunakan oleh orang-orang yang hanya mengambil keuntungan dari sifat ibu itu, namun, walaupun ibu berkali-kali dibohongi, ditipu, dikecewakan dan dirugikan, sampai saat ini sifat ibu itu tidak pernah berubah...dan walaupun pernah rugi, kecewa, dan dibohongi aku lihat ibuku masih baik-baik saja, tidak menjadi berkurang hartanya karena sering ditipu orang...dan sebagai anak yang sudah 50 tahun hidup bersamanya tak ada salahnya aku berusaha untuk meneladani 2 sifat ibu itu..
Ibuku adalah "sebuah Keranjang Sampah.." mengapa? karena sampai se renta itu, masih menjadi tempat orang membuang kekesalan hidup, unek-unek.....dan itulah, ibuku selalu siap, memang keranjang sampah selalu siap, bagaimanapun bentuk sampah yang dimasukkan ke dalamnya....
Manusia yang begitu naif dan polos itulah ibu, aku selalu repot menerangkan suatu keadaan.....karena ibuku selalu menilai dan melihat suatu situasi dan informasi dengan begitu naif dan polosnya, sehingga seringkali bila tak ada pengarahan dari putra-putrinya ibu bisa salah menilai suatu "fenomena", dunia ini memang tidak sejujur dan sebersih ibu.......dan kami putra-putrinya selalu siap melindungi ibu...
Itulah ibuku, perempuan tua, yang sudah jalan dengan terbungkuk-bungkuk....mulai pelupa namun masih bersuara keras penuh semangat, telah sering sakit karena kelelahan, namun tetap semangat menjalani hari-harinya seperti layaknya orang muda....beliau bersikeras masih mencuci sendiri..."tunggu waktunya aku tidak mampu mencuci.." kata beliau, beliau masih mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga....beliau masih dengan penuh kasih sayang seorang nenek membuatkan teh manis untuk kedua anakku...( bahkan lebih sering membuatkan dari pada aku...), beliau juga masih dengan penuh dedikasi membuat cemilan kesukaan keponakan, anak , menantu dan besan.....Allahuakbar, betapa beruntungnya aku
Ibuku,
bernama Sudariyah Sumaryono binti Tjokrosugiyo
berusia hampir 81 tahun
usia lanjit tak pernah menyurutkan semangat hidupnya....
dan aku ?
kadang-kadang malu....
seharusnya aku banyak belajar dari ibu....tak perlu cari sumber belajar yang lain....karena ibuku begitu sarat akan ilmu.....itu sering tak kusadari.....
ibuku pula yang memegang daguku di hari ke-7 wafatnya alm ayahnya anak-anakku dan mengatakan..."kamu masih berhak menikah lagi..." subhanalloh, setiap perkataan seorang ibu adalah doa, dan doanya dijabbah....ketentuanNYA telah terbukti sesuai dengan doa ibu...
Saat ini, apalagi yang bisa aku kerjakan untuk ibuku? selain tetap menjadi anaknya yang soleha, berprilaku luhur seperti harapannya.....ya, ibuku tidak pernah membutuhkan bantuan siapa-siapa.....justru kami yang selalu membutuhkan bantuannya....
Jakarta, 30 September 2010,02.10
Saat kangen ibu
ketika aku membutuhkan,
namun beliau tidak di rumah
maya fauzi sumaryono
Rabu, 29 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar