Rabu, 29 September 2010

DI CIAWI, TASIKMALAYA, KAMPUNGNYA SUAMIKU...

Hari Sabtu, 11 September 2010, bertepatan dengan tanggal 2 syawal 1431 H aku bangun dini hari jam 03.00 pagi, agak pegal-pegal badan rasanya untuk beranjak dari peraduan, maklum sudah hampir 10 hari para asisten rumah tangga meninggalkan rumah untuk berlebaran di kampung halamannya. Setengah jam kemudian aku betul-betul beranjak dari dari tidurku dan langsung menyiapkan "makan kepagian"...masih dengan menu lebaran ketupat, rendang, opor ayam, sambel goreng hati dan sayur pepaya.....kemudian suamiku menyiapkan kendaraannya, dan aku menyiapkan busana kami berdua, pagi itu dari Cikampek suamiku telah menyiapkan gamis putih kesayangannya yang kami beli di ITC Cempaka Mas
, dan aku memakai gaun hijau muda melayang....gaun lebaranku.

Setelah mandi dan sholat subuh selesai, pukul 05.00 kami berangkat meninggalkan Kompleks Pupuk Kujang dengan menggunakan panther...,pagi masih gelap dan sepi, dan aduh aku tetap mengantuk walaupun tetap bersemangat untuk tetap terjaga di samping suamiku.Dalam perjalanan di tol Purbaleunyi aku sempat tertidur selama 10-15 menit...tak tega juga membiarkan suamiku sendirian, sementara aku tidur...

Sampai di Cileunyi jalan masih lancar,namun begitu keluar dari jalan tol Cileunyi mulailah kesabaran suamiku diuji....jalanan penuh dengan mobil , dan semua mobil bergerak lambat serta rapatdan itu terus berlanjut sampai masuk di daerah Ciawi, sekitar 15 km sebelum memasuki kota Tasikmalaya....suamiku bilang, jangan mengukur jarak yang kita tempuh, tetapi hitunglah dari berapa kali kita ke kamar kecil..hahaha...kami 3x ke kamar kecil !

Ciawi, tepatnya di desa Asem adalah suatu desa kecil, namun mempunyai satu mesjid Agung, udaranya sejuk, dan dibelakangnya ada pegunungan yang apabila kami berjalan dapat menembus ke desa Wanareja, Garut. Di Ciawi adalah daerah asal alm ayah suamiku, di sana kami mendatangi rumah alm Kakek dan Uwak Wiwi. Aku berkenalan dengan para uwak,bibi dan mamang, juga berkenalan dengan sepupu suamiku seperti kang Encep, mas Yudi, Teh Yustin, anak-anak mas Yudi, Tami dan Sasa. aku juga bertemu dengan mas Reza, teh Rita, Teh Erna, mbak Dati, dan banyak lagi yang sudah aku kenal sebelumnya.

Senang sekali dapat melihat suamiku gembira berjumpa dengan keluarga besar dan pihak ayahnya alm. Dari daerah Asem kami naik lagi sekitar 200 m ke Ciawi.ke rumah keluarga alm Uak Subari, kakak alm mertuaku yang merupakan ayah dari teh Erna, mas Yudi, teh Yustin dan mas Reza, kami langsung makan siang dengan lauk: ayam suwir, balado kentang dan ikan nila goreng....alhamdulillah

Pukul 4 sore kami kedatangan tamu, sepupu mas Yudi dari pihak ibu, yang ternyata dia adalah seorang akupunturis....dan suamiku mencoba jasanya juga. Sebelum Magrib kuputuskan untuk membuat Spaghetty Bollognesse, yang bahan2nya memang sudah kusiapkan dari Jakarta, dan alhamdulillah dalam sekejab Spaghetty itu telah habis di makan, semoga di lain kesempatan aku bisa bikin lebih banyak lagi spagetty, hingga tidak kurang.

Malam hari setelah ngobrol-ngobrol, sebelum tidur aku mengajak para gadis untuk mencicipi bakso khas Ciawi...hm..rasanya enak sekali, gurih asli dengan kuah kaldu daging sapi, bahkan bakso apotik Rini, Taman Solo maupun jl paus Jakartapun kalh enak...dan aku? habis 2 porsi karena enaknya...malam itu aku tidur dengan tenang, bersama suamiku, di kamar yang sudah disediakan untuk kami berdua....

Sholat subuh seperti biasanya memulai kegiatan kami di pagi tanggal 3 Syawal, kemudian setelahmakan pagi dan ngobrol ngalor ngidul, suamiku pergi ke Asem rumah akinya untuk rapat dan aku tetap di rumah Ciawi, meneruskan ngobrol dengan mbak Dati dan Teh Yustin...sambil terus menelan ludah melihat para keponakan yang jajan tahu kupat khas Tasikmalaya....aku ingin sekali, sayang jatah makanku pagi itu sudah tercukupi.....dan aku tak mau membebani perutku dengan kelebihan makan....

Setelah memijat teh Yustin yang kelihatan kecapean, pukul 11.00 keluarga mas Yudi ditambah teh Yuustin pulang ke Jogja meninggalkan Ciawi karena mereka telah 4 hari di sana...selamat jalan...terutama kepada ke-2 gadis mas Yudi dan mbak Dati yang pandai-pandai dan cekatan....karena merekalah yang membawa mobil dari Ciawi sampai Jogyakarta secara bergantian, sampai bertemu lagi kelak di satu kesempatan, entah di Uluwatu (ehm), Jogya atau di Jakarta, semoga kalian selalu menjadi anak2 yang soleha dan berguna..amien

Suamiku datang menjemputku di sekitar waktu dzuhur, aku makan dahulu dan mendapat banyak oleh-oleh..., setelah sholat dzuhur kami berpamitan ke Asem dan langsung berangkat ke Wanareja, Garut, asal alm mama, mertua...dan masya Allah begitu kami keluar dari Asem kemacetan telah menghadang kami, akhirnya jalan yang dipilih suamiku adalah berputar lewat Singaparna, lebih jauh memang, namun relatif lebih sepi.

Kutinggalkan desa Ciawi, daerah asal alm bapak, semoga keluarga yang kutinggalkan dapat menjaga kerukunan, dan selalu sejahtera, amien.

Di tulis di Ciawi dan Jakarta
selesai tanggal 19 September 2010
MWF

IBUKU...

Seorang perempuan tua, dengan jalan yang sudah terbungkuk-bungkuk, yang nyaris berusia 81 tahun, itulah ibuku....

Ibuku adalah anak bungsu dari 4 bersaudara, dan pada usia 2 tahun telah menjadi anak yatim....ya beliau selalu bangga dengan predikat anak yatimnya...."anak yatim tulen, karena ditinggal bapak di usia yang dini, 2 th.." katanya...
Ya, memang di setiap kesempatan walaupun tidak diucapkan dengan mimik humor, tapi selalu ada usaha mempositivkan dan penghiburan di setiap waktu darinya untuk dirinya sendiri maupun anak2/lingkungannya di setiap keadaan/kondisi yang kurang menguntungkan.

Dulu ketika muda, ibuku bekerja di Kanwil Diknas, dan sampai pensiun beliau menjabat sebagai bendahara suatu proyek di Jakarta. Di situlah aku melihat "siapa" ibuku yang sebenarnya, seorang pekerja yang jujur dan bersih, yang selalu menjaga agar "semua baik" dan selalu "mencegah kejahatan/keburukan" walaupun dengan konsekwensi menerima dampak negatif dari sikap ibu itu.

Ibu juga seorang yang selalu "rela berkorban" apa saja, tentu saja tidak termasuk mengorbankan harga dirinya. Dulu, rumah kami selalu kedatangan kenalan, tetangga, sanak saudara....dan mereka datang untuk minta tolong, aku belum pernah melihat sekalipun ibuku bermuka masam dan menolak kedatangan mereka, dan hebatnya lagi...hampir semua yang datang akan ibu tolong sesuai kemampuan ibu, baik menolong secara moril ataupun materil ( kebanyakkan ibu menolong secara moril DAN materil...)

Sebagai anak perempuan tunggal dan sulung pula, biasanya banyak mendapatkan kemanjaan fasilitas, namun nyatanya ada masa bertahun-tahun rumah kami penuh dengan orang, kakak ibu, adik bapak, para keponakan ibu dan para keponakan bapak, berkumpul semua di rumah...hingga aku harus tidur sekamar bertiga ( padahal kami punya 4 kamar tidur !), bisa dibayangkan bagaimana kesalnya hatiku saat itu.....

Selalu berfikir positif dan pemaaf adalah sifat ibu yang agak sulit kuikuti, walaupun alhamdulillah semakin aku tua, dengan usahaku...aku bisa semakin positf dan pemaaf. Memang berfikir positif dan pemaaf seringkali disalahgunakan oleh orang-orang yang hanya mengambil keuntungan dari sifat ibu itu, namun, walaupun ibu berkali-kali dibohongi, ditipu, dikecewakan dan dirugikan, sampai saat ini sifat ibu itu tidak pernah berubah...dan walaupun pernah rugi, kecewa, dan dibohongi aku lihat ibuku masih baik-baik saja, tidak menjadi berkurang hartanya karena sering ditipu orang...dan sebagai anak yang sudah 50 tahun hidup bersamanya tak ada salahnya aku berusaha untuk meneladani 2 sifat ibu itu..

Ibuku adalah "sebuah Keranjang Sampah.." mengapa? karena sampai se renta itu, masih menjadi tempat orang membuang kekesalan hidup, unek-unek.....dan itulah, ibuku selalu siap, memang keranjang sampah selalu siap, bagaimanapun bentuk sampah yang dimasukkan ke dalamnya....

Manusia yang begitu naif dan polos itulah ibu, aku selalu repot menerangkan suatu keadaan.....karena ibuku selalu menilai dan melihat suatu situasi dan informasi dengan begitu naif dan polosnya, sehingga seringkali bila tak ada pengarahan dari putra-putrinya ibu bisa salah menilai suatu "fenomena", dunia ini memang tidak sejujur dan sebersih ibu.......dan kami putra-putrinya selalu siap melindungi ibu...

Itulah ibuku, perempuan tua, yang sudah jalan dengan terbungkuk-bungkuk....mulai pelupa namun masih bersuara keras penuh semangat, telah sering sakit karena kelelahan, namun tetap semangat menjalani hari-harinya seperti layaknya orang muda....beliau bersikeras masih mencuci sendiri..."tunggu waktunya aku tidak mampu mencuci.." kata beliau, beliau masih mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga....beliau masih dengan penuh kasih sayang seorang nenek membuatkan teh manis untuk kedua anakku...( bahkan lebih sering membuatkan dari pada aku...), beliau juga masih dengan penuh dedikasi membuat cemilan kesukaan keponakan, anak , menantu dan besan.....Allahuakbar, betapa beruntungnya aku

Ibuku,
bernama Sudariyah Sumaryono binti Tjokrosugiyo
berusia hampir 81 tahun
usia lanjit tak pernah menyurutkan semangat hidupnya....
dan aku ?
kadang-kadang malu....
seharusnya aku banyak belajar dari ibu....tak perlu cari sumber belajar yang lain....karena ibuku begitu sarat akan ilmu.....itu sering tak kusadari.....
ibuku pula yang memegang daguku di hari ke-7 wafatnya alm ayahnya anak-anakku dan mengatakan..."kamu masih berhak menikah lagi..." subhanalloh, setiap perkataan seorang ibu adalah doa, dan doanya dijabbah....ketentuanNYA telah terbukti sesuai dengan doa ibu...
Saat ini, apalagi yang bisa aku kerjakan untuk ibuku? selain tetap menjadi anaknya yang soleha, berprilaku luhur seperti harapannya.....ya, ibuku tidak pernah membutuhkan bantuan siapa-siapa.....justru kami yang selalu membutuhkan bantuannya....

Jakarta, 30 September 2010,02.10
Saat kangen ibu
ketika aku membutuhkan,
namun beliau tidak di rumah
maya fauzi sumaryono